Minggu, 18 Desember 2016

Untuk Diriku

Hari ini aku melihat kedalam cermin teman-temanku. Aku belajar bahwa setiap detik berjalan, aku harus dapat makna dari hidupku, namun ternyata aku lebih banyak belajar tentang diriku sendiri.
Aku bertanya pada diriku sendiri.
Apakah aku gila mengajakmu bicara diriku? Aku ingin tahu kabarmu hari ini? Perasaanmu setiap pagi yang kamu luapkan selepas tidur yang mungkin singkat bagimu dan orang lain bilang kamu gemar. Bagaimanakah kabarmu hari ini? Lelahkah dengan segala yang aku perbuat? Apakah dirimu bermanfaat?
Aku beralih, Dari semua puncak yang pernah aku pijak, aku bersyukur dan berterimakasih kedalam diriku sendiri. Trimakasih ‘aku’ yang sudah membawa tubuh ini berjalan lurus naik turun belok. Aku tanpamu cuma jadi ruh yang tak tau singgah dimana. Trimakasih ‘aku’ yang sudah membawa senyum setiap hari dalam keadaan apapun di dalam hidupku.

Terimakasih kakiku, tanpamu aku tak tau rasanya kabut dingin diatas gunung. Tak pernah tau apa itu naik gunung dan sesuatu yang disebut keluarga diluar sana. Berjalan beriringan dengan kawan, hingga berlari menyusuri jalan setapak yang mulai datar, bayangkan jika aku tanpamu.

Terimakasih mulutku, yang selalu berusaha mengucap sesuatu untuk sahabat perjalanan yang mungkin sama cerewetnya. Terimakasih karena selalu menolak mengeluh setiap kali aku menjumpai tanjakan bahkan jalan susah. Terimakasih untuk selalu tertawa menghadapi bagaimanapun tracknya.

Terimakasih tanganku, setiap yang kau ambil dan kau berikan adalah yang selalu membantu aku lebih mudah mengerjakan segala aktifitasku. Terimakasih untuk selalu menawarkan uluran pada yang selalu membutuhkan. Terimakasih kau tak pernah membuatku malu karna sesuatu yang tak berguna untukku.

Terimakasih mataku, aku pernah bilang “kamera dengan hasil paling indah adalah mata”. Terimakasih telah menyimpan begitu banyak gambar tentang alam indah ini untukku. Terimakasih telah membawaku melihat betapa hidup ini sangat berharga tak boleh sia-sia. Terimakasih tak pernah mengeluh atas debu tebal yang mungkin selalu menyakitkanmu.

Terimakasih hatiku, terimakasih banyak. Bahkan menurutku engkau lebih besar ukurannya daripada aku. Selalu membisikkan kata sabar jangan mengeluh, hidup perlu dinikmati, sekali dan berarti. Terimakasih untuk selalu belajar dan menerima apapun nasibku. Terimakasih telah membuat arti dewasa menjadi bermakna.

Jika akhir adalah bagian yang harus indah maka proses harus dinikmati dengan jiwa yang rindu tanpa plagiasi. Menjadi dirimu sendiri adalah pilihan. Dan pilihan yang seringkali dilupakan adalah memilih bersyukur atas apa yang kita punya hari ini, milik kita. J

Terimakasih diriku.

Sambil denger yang paling ngena beberapa hari ini :
Most Beautiful Music Ever: "Everdream" by Epic Soul Factory


Tidak ada komentar:

Posting Komentar