Minggu, 18 Desember 2016

Untuk Diriku

Hari ini aku melihat kedalam cermin teman-temanku. Aku belajar bahwa setiap detik berjalan, aku harus dapat makna dari hidupku, namun ternyata aku lebih banyak belajar tentang diriku sendiri.
Aku bertanya pada diriku sendiri.
Apakah aku gila mengajakmu bicara diriku? Aku ingin tahu kabarmu hari ini? Perasaanmu setiap pagi yang kamu luapkan selepas tidur yang mungkin singkat bagimu dan orang lain bilang kamu gemar. Bagaimanakah kabarmu hari ini? Lelahkah dengan segala yang aku perbuat? Apakah dirimu bermanfaat?
Aku beralih, Dari semua puncak yang pernah aku pijak, aku bersyukur dan berterimakasih kedalam diriku sendiri. Trimakasih ‘aku’ yang sudah membawa tubuh ini berjalan lurus naik turun belok. Aku tanpamu cuma jadi ruh yang tak tau singgah dimana. Trimakasih ‘aku’ yang sudah membawa senyum setiap hari dalam keadaan apapun di dalam hidupku.

Terimakasih kakiku, tanpamu aku tak tau rasanya kabut dingin diatas gunung. Tak pernah tau apa itu naik gunung dan sesuatu yang disebut keluarga diluar sana. Berjalan beriringan dengan kawan, hingga berlari menyusuri jalan setapak yang mulai datar, bayangkan jika aku tanpamu.

Terimakasih mulutku, yang selalu berusaha mengucap sesuatu untuk sahabat perjalanan yang mungkin sama cerewetnya. Terimakasih karena selalu menolak mengeluh setiap kali aku menjumpai tanjakan bahkan jalan susah. Terimakasih untuk selalu tertawa menghadapi bagaimanapun tracknya.

Terimakasih tanganku, setiap yang kau ambil dan kau berikan adalah yang selalu membantu aku lebih mudah mengerjakan segala aktifitasku. Terimakasih untuk selalu menawarkan uluran pada yang selalu membutuhkan. Terimakasih kau tak pernah membuatku malu karna sesuatu yang tak berguna untukku.

Terimakasih mataku, aku pernah bilang “kamera dengan hasil paling indah adalah mata”. Terimakasih telah menyimpan begitu banyak gambar tentang alam indah ini untukku. Terimakasih telah membawaku melihat betapa hidup ini sangat berharga tak boleh sia-sia. Terimakasih tak pernah mengeluh atas debu tebal yang mungkin selalu menyakitkanmu.

Terimakasih hatiku, terimakasih banyak. Bahkan menurutku engkau lebih besar ukurannya daripada aku. Selalu membisikkan kata sabar jangan mengeluh, hidup perlu dinikmati, sekali dan berarti. Terimakasih untuk selalu belajar dan menerima apapun nasibku. Terimakasih telah membuat arti dewasa menjadi bermakna.

Jika akhir adalah bagian yang harus indah maka proses harus dinikmati dengan jiwa yang rindu tanpa plagiasi. Menjadi dirimu sendiri adalah pilihan. Dan pilihan yang seringkali dilupakan adalah memilih bersyukur atas apa yang kita punya hari ini, milik kita. J

Terimakasih diriku.

Sambil denger yang paling ngena beberapa hari ini :
Most Beautiful Music Ever: "Everdream" by Epic Soul Factory


Minggu, 09 Oktober 2016

Judulnya di Sub Judul

Sub Judulnya Nge-Gembel Asik di Gunung
Sebenernya ini adalah segumpal dongeng yang nggak lebih dari sekedar curhatan ketika nggembel di gunung beberapa bulan lalu. Sebut saja dia Argopuro, cari namanya di beberapa mesin pencarian internet, pastilah akan kamu temui kata kata “trek terpanjang se-Jawa”. Iya iya aku tau, aku bukan maksud ada pamer mau nulis cerita semacam gini, cuman rasanya hatiku gatel sekali nggak ngebocorin keindahan alam semesta ini padamu. Hari ini, kemarin dan kemarinnya aku habis baca novelnya ayah Pidi Baiq, sebut saja Dilan, seorang makhluk yang ayah Pidi ciptakan barangkali untuk membuat seluruh umat wanita menginginkannya, mengeluh-eluhkannya, jujur saja akupun begitu. Kamu baca sendiri aja, karena kalau aku yang cerita nanti aku bisa dibayar ayah karena edors tak resmi, kan asik jadinya. Ayah maafkan aku pinjem sedikit gaya penulisan milik Dilan.
Kini kita fokus saja kepada alam semesta yang sudah kujanjikan untuk kuceritakan semenjak bulan bulan yang lalu tapi tak kunjung ada kemauan menulisnya. Sudah kamu cari Argopuro? Barangkali sudah banyak cerita yang mendongengkan Gunung yang satu itu. Memang dia Gunung dengan trek terpanjang se-Jawa. Aku tak habis pikir siapa yang udah ngukur trek tersebut pertama kali. Kalau semeru aja tingginya 3676 mdpl, kamu bisa tebak Gunung ini tingginya berapa? Iyasih cari lagi di mesin internet udah banyak, jadinya nggak usah di dongengin lagi. Begitu pula dengan cerita lain yang udah udah. Aku nggak bakal ngasih tau lagi atau cerita lagi, biar apa? biar aku nggak capek J
Kalau kamu ambil jalan dari Bremi (daerah ini terletak di Probolinggo) maka kamu akan ketemu gapura warna kuning dengan tulisan yang menonjol, kayanya sengaja dibuat begitu, karena yang menonjol sering diingat katanya, Tulisannya maksudku, bukan yang lain. “SELAMAT DATANG DI TAMAN HIDUP”, yang jomblo jangan baper dan jangan pernah menyebutnya “TEMAN HIDUP”, karena tulisan itu mungkin udah di tasyakuri jauh jauh hari, jadi jangan demo untuk merubahnya jadi teman hidup kalian. Begitu udah disambut gapura hits tersebut, maka yakinlah kalau kamu akan segera capek karena trek yang di lalui bukan lagi aspal atau jalan lebar selebar dahi kamu. Kamu ketemu rumah-rumah orang beserta orangnya, ketemu sawah, dan tentu saja ketemu pohon-pohon tinggi yang hijau , rimbun, seger sekali rasanya. Kamu tau kenapa orang lebih suka nanyain “kenapa kamu suka naik gunung?” ketimbang buat pernyataan “aku ikut naik gunung” mungkin jawabannya karena mereka nggak pernah di beri dongeng tentang bau-bauan alam yang beda sama bau-bauan gedung kota beserta nafas kehidupan kota, atau mereka jarang sekali mendengar betapa dinginnya hawa gunung itu beda dengan dingin AC dimana mana, atau lagi karena akunya yang salah nggak pernah bisa ngegambarin kenapa gunung itu selalu menarik, jauh lebih menarik dari hanya sekedar nggak jomblo lagi, jauh. Mau bagaimanapun itu adalah subjektif, kalau kata bu Tika dosen mmik, artinya pandanganku dan pandanganmu adalah berbeda. Maka maklumilah. Batu kasar, bentuknya besar, licin, ah aku mah nggak pernah berbakat menggambarkan suasana yang barang kali itu ‘real’, hanya saja kulakukan semata-mata biar kamu mencari sendiri kebenarannya dengan ikut bersamaku lain kali. (baca : nyari temen daki sebenernya. Haha)
Sekitar bermeter meter kamu akan ketemu jalan tanjakan yang makin lama nanjaknya makin nggak beraturan. Cuma, tanjakan-tanjakan yang aku lewati selama ini semata nggak berasa nanjak karena aku punya teman yang benar-benar bisa mengajakku untuk terus berjalan dan berproses. Kali ini kusebut mereka 3 suami temen di bumi argopuro. Aku nggak murka, tapi salahkan mereka yang hanya mengijinkan aku ikut, sementara populasi wanita di dunia ini lebih banyak daripada mereka. Berempat seperti barisan boyband kami menyusuri hutan tropis milik argopuro, banyak bunyi-bunyian burung, banyak angin-angin yang lewat, dan tentu saja banyak cowok ganteng yang ‘kintil’ lewat juga. Kamu tau hutan di Game Tarzan, jangan jauh jauh ngebayangin hutan yang lain, karena hutan yang seperti itu udah pas buat di taruh di imajinasi yang kamu buat. Hutan di filmnya ‘King Kong’? jangan kufikir itu terlalu horror, apalagi hutan milik film ‘Jurasic Park’, haha jangan dibayangin, ntar kamu jatuh cinta sama dinosaurus.
Setelah melewati hutan macam itu akhirnya sampailah kita di taman hidup. Taman surganya gunung argopuro, katanya sih begitu. Berangkat dari jam 10, baru mendekati taman ini sekitar jam 1, mungkin buatku lumayan lama, nggak tau buat Tarzan. Begitu kaki udah menginjak rumput basah taman hidup, tubuh rasanya seolah pengen cepet cepet rebahan di situ langsung, sayang hari hujan membuat sekitaran taman itu waktu itu penuh dengan susu coklat rasa hambar lumpur yang becek. Langsung kami bergegas mendirikan tenda mengingat waktu ashar dan malam sebentar lagi menyapa. Dengan dibumbui cekikikan dan ngomong ngalor-ngidul yang nggak karu-karuan, akhirnya tenda beserta santapan makan sore kami sudah siap. Makan bersama adalah adat yang nggak mungkin dilewatkan begitu saja saat naik gunung. Bisa dibilang meski temen-temenku maunya makan enak digunung, mereka tetep ngintilin mie instan dibarengi endok enak empuk. Seperti halnya masalah BAB, meski tau dia akan datang setelah kita makan, tetep aja makan nggak bisa ditinggalin. Aku jadi inget ada temenku yang nanya “Gimana kalau BAB di gunung? Pipis di gunung? Kan kita nih cewe?” spontan sebenernya aku ngakak. Dulu atau sekarang meski aku bukan bocah yang punya ilmu survive di alam anak gunung, aku pun tau kalau pipis dan kawan-kawannya hanya dilakukan dengan jongkok dan selesai, lalu apa masalahnya :D Kata ayah pidi (lagi) ‘masalah adalah apa yang kamu anggap masalah’. Jadi kalau kamu jijik mau mengganti air dengan tisu basah kukira itu masalahmu, bukan masalahku hahah. Kalau aku nggak jijik, jadi karna menurutku di tisu basah itu ada airnya meskipun dikit, kalo nggak ada airnya juga namanya bukan tisu basah. Kamu tinggal nyari tempat yang banyak semak belukar aja, dan nyari temen buat nganter juga, kan ngga mungkin sendirian, ntar takut, kan wanita ditakdirkan seperti itu, jangan sok kuat-katanya laki-laki.
Malam adalah saat yang tepat untuk kami melaksanakan agenda tidur, dan menurutku kalau kamu berfikiran aneh-aneh maka kamu nggak akan bisa tidur, tidur bareng cowok misalnya. Orang banyak tau luar dan ceritanya doang, padahal setenda bareng cowok juga aman-aman aja, kan pake SB masing-masing. Kamu harus tau bahwa naik gunung harus berfikiran positif terus.
Setelah melaksanakan subuhan, kami berencana bersih-bersih dan melanjutkan jalan lagi. Percayalah cerita ini panjang. Aku nggak tau padahal udah aku singkat. Dengan mengambil air di taman hidup, aku jadi tau bahwa saat itu taman hidup hampir mirip kotakan sawah di pinggir rumah. Bukan maksudku menyamakan taman surga dengan sawah, tapi itu apa adanya. Mungkin karna efek hujan yang membuat becek ada dimana-mana. Meski penampakan itu super nyata, hal itu sama sekali nggak ngurangin jumlah temen-temen pendaki yang ngantri buat foto di gubuk legenda taman hidup. Aku pengen, tapi ntar aja katanya kalau balik lagi kesini dan udah bagus aja, hehehe.

aku nggak berani bohong hahah

Taman hidup adalah saksi bisu kami yang keliatan sangat kelaparan ketika kami melewati jalan setapak yang di pinggir-pinggirnya banyak tenda dengan mas-mas yang lagi masak-masakan. Sengaja emang kami nggak makan untuk melanjutkan perjalanan kami. Setelah pemandangan tersebut berlalu, kini hutan dingin, adem, seger dan sepi kembali menyapa kami. Kalau di lihat diatlas namanya adalah ‘Hutan Lumut’, coba dicari hahah. Nggak sampai setengah perjalanan kami berhenti untuk ambil air, aku nggak tau kenapa waktu itu meski airnya bau tetep kami minum :D mungkin biar kuat, aku lupa.
Sekitar jam 12an kami sampai di Dataran Tinggi Hyang, istirahatlah kami, karna kami tau bahwa kaki ini ada untuk membantu kami berjalan dan karna itu mereka harus istirahat untuk tetap membantu kami.

minta dipisah karna banyak...
(nanjaknya 5-8 Mei, nulisnya hari ini)


Jumat, 20 Mei 2016

Puncak Paling Keren

“Perjalanan menapaki bukit, melewati sungai-sungai kecil, jalanan licin,
Adalah secuil proses dari petualangan
yang meskipun kecil keberadaannya
tapi tetap berharga hingga mati”

Di perjalanan kali ini, saya akan menceritakan tentang puncak paling indah yang pernah saya lihat di jawa timur. Arjuno, diukir dengan ketinggian 3.339 mdpl sama Gusti Allah. Penuh suasana mistis dan horor dimana-mana. Eksotisnya awan disini bakal ngalahin awan di Semeru. Ah pokoknya ini perjalanan yang gak terduga banget. Keberangkatan menuju gunung yang satu ini kala weekend seperti biasa. Berangkat hari jum’at dan pulang hari minggu. Kali ini saya berangkat sama temen-temen satu kampus, tepatnya lebih ke satu jurusan sih. Bersama dosen saya sebut saja Pak Sulis, lalu 2 makhluk segender dengan saya Hesty dan Desi, juga ada Hamid yang tentu udah gak asing karna udah pernah disebut di cerita semeru 2 sama si Hesty, ada kakak tingkat saya yang semuanya berjumlah 4 butir dan cowok semua, Mas Dony, Mas Nanda, Mas Wawan, dan Mas Iqbal, kita semua sebagai tim, berkumpul di kampus sebagai basecamp pertama perjalanan ini. Waktu itu hari jum’at pas sehabis magrib kita kumpul dan disambut hujan deres banget. Ala-ala mau berangkat sorean gagal karna deresnya hujan. Jam 9 tepat kita berangkat menuju pos perijinan gunung arjuno via purwodadi. Yah, kali ini kami memilih untuk lewat purwodadi saja. Entah apa alasannya saya masih belum tahu, saya mah ikut aja okenya.
Setelah ijin dan semuanya bersiap, kita akhirnya berangkat. Waktu itu jam nunjukin pukul 11 tepat. Kiri kanan masih ada rumah penduduk dengan anjing yang menyalak nyalak karna kedatangan kita. Gak lama kemudian jalan makadam mulai menyapa, meski batunya gak gede-gede amat, tapi bagi saya ini permulaan yang sungguh extreme wkwkk. Sekitar 1 jam melalui jalan makadam yang nanjak, akhirnya kita sampai di pos 1, Onto Beogo ,Semacam tempat TNI latihan dan ada pesareannya(kuburan) juga. Kita istirahat sejenak dan melanjutkan perjalanan lagi, jalan mulai naik, sempit, licin, banyak batuan gede, kudu extra hati-hati dan kuat kakinya buat nanjakin batu batuan yang MasyaAllah deh pokoknya. Setelah itu kita sampek di Pos 2 , Tampuono, istirahat lagi, buka kompor, buka nesting, buat energen. Setelah lama di pos 2 kita jalan lagi, waktu itu udah sekitar jam setengah 2an, kita menuju pos 3, yang ternyata gak jauh banget sama pos 2, sekitar 10 menit dah sampek pos 3, atau bisa disebut Eyang Sakri. Kita langsung jalan tanpa mutusin istirahat lagi, karna tadi dah lama di pos 2. Setelah melewati pos 3, jalanan sesungguhnya mulai tampak. Batunya mulai gede-dege banget, nanjak banget, belok-belok, akh ciri khas perjalanan gunung lah ya. Saya mulai nyemangatin 2 makhluk kesayangan saya yang udah nemenin saya diperjalanan ini, Hesty sama Desi, mereka ternyata masih semangat banget wkwkk. Maklum kita jalan malem, jd trek yang begitu panjang dan nanjak ini gak terlalu berat karna gak kelihatan. Sekitar jam 4 pagi kita sampek di pos 4, disini kita memutuskan untuk berhenti jalan dan tidur. Tanpa buka tenda, kita langsung tidur di pondokan. Jadi di pos 4 ini ada semacam pondok, jumlahnya ada 2, mirip sama rumah di ranu kumbolo, yang di khususkan buat pendaki untuk istirahat dan tidur. Di pos 4 ini juga ada kamar mandi dengan air yang seger banget, gak nyagka bakal ada kamar mandirnya, meski gak ada tutupannya (kamar mandi terbuka). Besoknya sekitar jam 9 kita packing dan berangkat ke pos 5. Jarak antara pos 4 ke pos 5 sama kaya pos 2 ke pos 3, alias lumayan deket, jadi sekitar jam 9 lebih saat itu kita udah berada di pos 5, atau Mangkutoromo. Disini hawa mistisnya udah mulai berasa banget lo, hahah di Mangkutoromo ini ada candinya, meskipun kecil tapi horror. Banyak patung-patung juga disini, banyak dupa juga. Eh tapi ada kamar mandinya lagi. Ini nih yang bikin suasana disini nyaman banget, gak bingung air, berasa kaya dirumah sendiri. Kita diriin tenda dan istirahat.


welcome di mangkutoromo

Malemnya sekitar jam 11 kita mulai nanjak ke puncak. Mirip dengan semeru, kita gak bawa carrier ke atas, dan Cuma bawa daypack. Setelah ber’doa, kita jalan, dengan jalan yang langsung nanjak sehabis mangkutoromo, kita ketemu candi lagi, ihh serem, sumpah, bau dupanya kemana-mana, saya langsung jalan pokonya gak lihat kanan-kiri. Tempat penuh patung dan candi ini adalah pos 6, disini nanjaknya ada tangganya, tangga bekas candi yang agak memudahkan jalan. Jalan nanjak lagi, nanjak banget, lama banget, akhirnya sampek di pos 7 atau, Jawa Dipa, disini dataran yang lumayan luas. Kita istirahat sejenak, dan disini kita baru sadar kalo air yang dibawa menipis, OMG. Setelah pos 7 kita melewati hutan terkenal milik arjuno, sebut saja alas lali jiwo. Alas yang kemiringannya kaya tembok kira-kira 75 derajat, jalan musti merangkak kalo gak mau jatoh. Gak lama jalan, semua anggota tim kembali istirahat, kali ini istirahatnya agak beda, semua ketiduran, kecuali Saya, Hamid sama mas Wawan, mereka berdua bolak balik ngajakin yang lainnya jalan, tapi semua no respon, diem, makin lama dirasa-rasa makin dingin, dingin banget. Akhirnya Mas Dony yang tidurnya sambil duduk, jatuh ngglundung ke bawah, wkwkk hal tersebut bikin semuanya langsung bangun dari tidur masing-masing dan mulai berdiri buat jalan lagi. Setelah mengalami hal seperti tersihir tersebut, jam nunjukin pukul 5 pagi, hmmmm, alamat nggak bakal dapet sunrise ini nih. Haha. Kemudian kita jalan terus, merangkak lagi, lama-kelamaan gelap udah mulai terang, jalan udah kelihatan meski tanpa headlamp, dan sunrise pun muncul dari kejauhan. Satu kata waktu lihat sunrise dari alas ini. AMAZING.

foto oleh : mas Dony

Bahkan saya nggak pernah ketemu yang begituan di Semeru, di Panderman, di Lemongan, di Kawah ijen, nah ini, untuk pertama kalinya saya bener bener berasa diatas awan. Jadi gini rasanya berada di bawah awan sekaligus diatas awan. Rasanya udah terharu banget, campur aduk deh seneng banget. Ini masih belum sampe puncak, gak kebayang banget kalo sampe puncak gimana gak tambah uaahhh…
Karna gak pengen kesiangan sampek puncak, kami kembali jalan, jalannya masih nanjak, sama sekali gak ada landainya. Dari alas jiwo tempat sunrise tadi kira-kira butuh waktu 2 jam ke puncak. Ketemu lagi sama batuan gede-gede yang mendominasi jalanan kecil menuju puncak. Beberapa jam jalan, batuan di puncak mulai kelihatan, saya langsung girang, jalan kembali semangat, uhhh udah kaga sabar lihat ogal-agil. Saya jalan didepan sementara 2 temen saya dibelakang karna udah kecapekan banget, kali ini mereka dibarengin Yulian, eh ya ampun dari tadi belum kesebut sebut yah namanya Yulian wkwkk, Yulian ini juga tim kita, dia asli papua, duh kelupaan wkwkk. Bapak yang punya 2 orang anak ini kaya seumuran kita lo, dia baik banget mau barengin 2 cewek dibelakang, sementara cowok lainnya udah ngibrit di depan. Gak lama saya semangat jalan sambil jilatin embun di rumput karna sedari di alas jiwo air udah habis bersih, saya akhirnya menapaki pelawangan puncak, Subhanallah, beneran nih ada di Arjuno, beneran ini saya berdiri disini, rasanya masih kaya mimpi aja. Hiks. Sumpah terharu.


Dari kiri : Hamid, Desi, Pak Sulis, Mas Dony, Saya, Mas Wawan, Yulian, Hesty, Mas Iqbal, Mas Nanda. 

Puncak dengan ketinggian 3.339 mdpl ini gak ada datarannya, jadi Cuma batu batu aja. Pijakan kita musti bener-bener hati-hati kalo udah disini. Salah injek bisa jatoh gak berupa deh. Masih dengan aura mistis, dipuncak ini juga ada dupanya. Wah, bener-bener deh.Saya jadi menyimpulkan sendiri, ini pokoknya puncak pualing kueren, paling indah, paling awesome, dari beberapa puncak gunung di Jawa Timur yang pernah saya kunjungi. Semisal trekknya gak bikin badan kocak, pasti saya mau diajakin kesini lagi, berapa kalipun saya rela dan mauuu.
Setelah puas dengan puncak dan keindahannya yang bikin bersyukur tanpa henti sama Gusti Allah, akhirnya sekitar jam 10 kita turun lagi menuju mangkutoromo. Masih sama lewat jalan semula. Sampek di mangkutoromo sekitar jam 3 sore, istirahat sejam, lalu packing bersiap pulang. Jam 4 pas, kita berangkat turun, karna sedari kemaren kita jalan malem, jadinya pas turun ini kita bisa lihat trek yang kita lewatin jum’at malem kemaren. MasyaAllah deh, saya mending milih gak bakal ngulang jalur ini lagi. Ini gak ada bedanya sama trek di Lemongan, batu gede, turunnya curam, dan  ah we o we lah. Ternyata gak Cuma saya yang kaget, temen saya juga sama kagetnya wkwkk.
Kita bener-bener sampek di bawah jam 1 malem, bayangin betapa lamanya ternyata turun gunung ini wkwkk, biasanya dibuat kesel karna turun gunung selalu lebih cepet dari naikknya. Lah ini, duh pokoknya sip bener lah. Hahah. Baru sampek malang jam 3 pagi dan paginya langsung kuliah.
Arjuno emang gunung tak terduga lah, Gunung dengan puncak terindah dan banyak kamar mandinya. Gak rugi sama sekali meski lewatin trek yang MasyaAllah banget haha. Kamu harus kesini! :D Must try it!

Selasa, 01 Maret 2016

Panderman aja

2 Bulan yang lalu tepatnya pertengahan Januari saya diajakin temen kosan jaman SMA saya naik gunung lagi yeheee asiiiik. Namanya Deby. Ngajaknya sih ke Panderman. Sebelumnya dia juga ngajakin saya ke Pawitra ato yang biasa disebut sebut Penanggungan. Cuman saya ada acara Dies Natalis kampus, jd dengan muka masam haruslah saya relakan ajakan tersebut. Kali ini berangkatnya nggak seperti camping semeru dua yang acak acakan banget. Ini pendakian yang udan disiapin mateng mateng. 

Pendakian panderman

Kalo kita searching di Google, Gunung yang berada di daerah Batu ini ketinggiannya sekitar 2000mdpl. Untungnya gunung ini nggak jauh dari Malang, jadi saya bisa ikutan hahah. Kali ini saya nggak cuman berdua sama Deby, ada Nasrul, temen sekampus Deby, ada Mas Albani, temen maen si Nasrul dan Mas Fungky, temen maen mas Albani. Yah, bisa dibilang standart lah, nggak dikit banget, nggak banyak banget kalo isinya 5 buah gini haha. Kembali menuju perjalanan, kami berangkat menuju lokasi pendakian jam 4 sorean kayanya waktu itu. Tentu setelah mengalami yang namanya packing lagi, dan nunggu mas Albani yang lamanya berasa seabad nggak dateng dateng. Begitu udah lengkap, barulah kita berangkat naik sepeda motor menuju tempat parkir (sekitar sekilo lah jaraknya). Selepas parkir, kita smua jalan kaki menuju tempat registrasi. Waktu itu dah sekitaran maghrib jd kita mutusin buat sholat dulu. Selese sholat kita lanjut lagi menuju tempat registrasi. Yah, baru aja semangat mau melakukan perjalanan pendakian yang kedua, hujan mengguyur lagi, bak peristiwa semeru beberapa minggu yang lalu, akhirnya dengan muka tebal saya keluarin mantel abang becak dan makek tu mantel sambil nahan malu karna bunyi gemesnya yang ngga bisa di silent. Begitu dah sampe di tempat registrasi hujan makin deres. Yah, sebel juga sih, tp dibawa hepi ajalah ya. Rencananya kita akan melakukan pendakian dua gunung sekaligus, Panderman dan Buthak. OMG. Awesome.
Cuman itu tadi kan rencana, nggak tau deh ntar akhirnya gimana. Dari tempat registrasi ke puncak panderman nih, seingat saya cuman 3 km. Hiii asik kan tuh, deket banget. Cuman yah, biasalah namanya gunung, 3 km digunung sama di jalan raya kan beda baangeeet, hiks.
Setelah regitrasi kita berdo'a dan akhirnya berangkat. Diawal awal pendakian ke Gunung Panderman ini, kita disambut dengan jalan yang enak, jalannya masih pavingan nggak ada bolong-bolongnya, ini jalan juga lebar banget, cuman ya emang sedikit nanjak, namanya ke gunung kan hahah. Setelah melewati jalan paving, lama kelamaan jalannya berubah seperti jalan ala gunung-gunung biasanya, setapak, sempit, nanjak, banyakan batunya, dan karna waktu itu hujan jalannya jadi becek ditambah licin. Hal kecil semacam itu nggak perlu diribetin yah kalo naik gunung, kan harus dibiasain. Yang patut diribetin saat itu cuman, Gelaaaaap, aw aw. Wajar sih berangkat habis magrib, jadinya rada horor kan  emang. Untungnya, ini gunung bukan pasar, jadinya rame! Lho kebalik yah wkwkk, tp emang waktu itu ada 2 rombongan lain yang berangkat jam segitu juga, kan rame jadinya. Setelah melewati seluk beluk jalan becek, jalan setapak yang hilang dan kudu dilewatin hanya dengan seutas tampar, hujan deres yang tak kunjung reda, badai halilintar yang menyambar, wkwkk eh gak deng, pada akhirnya kami menemukan pos 1, yeheeeee! Alhamdulillah.
Waktu itu sekitar setengah 8, lokasi pos 1 atau yang biasa disebut latar ombo ini lagi rame banget karna buaaanyak yang ngcamp, maklum kali yah, waktu itu emang malem minggu. Cuman ya gitu, sebatas menyimpulkan dari suara, karena gelap gulita kutakbisaaaaa, lihaaat, lihaaat merekaa, uoo, uoo~ ciee jadi nyanyi. Hayo tebak lagu apa? Hahah, lah lah jadi tebak-tebakan. Setelah puas minum di latar ombo, kami berencana melanjutkan perjalanan, meskipun cuaca tak merestui, kami tetap tegar menghalau rintang, tsaaah~
Jalan lagi, meronta lagi. Yang bisa saya lakukan sepanjang jalan cuma nunduk ngikutin kakinya si deby yang ada didepan saya. Tengok kanan kiri juga nggak ada apapun, nggak bisa lihat pemandangan yang keren, kan gelap. Ininih suka dukanya jalan malem, nggak bisa lihat pemandangan, jalan berasa laaaamaaa banget ngga sampe sampe juga. Tapi enak, ngga panas, dan nggak gerah haha. Sekitar jam 10 kami sampe di pos 2, atau watu gede, yang ngcamp nol. Nggak ada satu tendapun di watu gede, jadi kita mutusin untuk terus jalan dan nggak break. Setelah naikan dikit dari watu gede, kita baru lihat ada 2 buah tenda yang berdiri, dan berhentilah kami disitu. Mulai buka cemilan, karna udah kelaperan banget, eh nengok kanan kiri, subhanallah, kueereeen pol, wkwkk. Kaya ada manis manisnya gitu, haha, berasa di paralayang lo, dari sini pemandangan di bawah Gunung Panderman keliatan. Keliatan titik titik lampu kecil yang, ah masyallah deh ya hehe. Untuk memastikan keadaan mau lanjut atau berhenti aja, leader kami, sebut saja mas Al, nanya ke tenda yang notabene penghuninya masih rame kira-kira kaya begini nih,
          “mas, kalo keatas resiko gak? Treknya susah gak?”
          “wah, susah mas, licin, habis hujan, nggak ada pegangan, hati-hati lo”
Semua pada bengong, mau ngcamp di tempat ini juga udah nggak ada tempat, mau lanjut juga musti kuat mental. Akirnya dengan persetujuan dua bidadari dalam perjalanan ini yang rela-rela aja batin dan fisiknya tersiksa, berangkatlah kami menuju puncak. YOOO SEMANGAT!


 yaqin masih mau jalan malem? wkwk

Dengan perut yang udah diisi kriptos saya jadi semangat kembali. Kita akhirnya jalan terus, terus, dan terus. Saking keterusanya hujan yang sedari tadi debitnya nggak terlalu deres, sekarang jadi mengundang bledek, huaaa, suasana waktu itu kembali horor, petir dimana mana euy, manalagi jalanan berbatu gede gede, kemiringan mendekati 90 derajat, air hujan mengalir seperti sungai melewati kami yang mati-matian bertahan naik. Yah, hanya bisa pasrah sama Gusti Allah, jalan sambil do’a, saling bantu, saling jaga aja. Depan kepleset, belakang ambruk semua. Depan nyeruduk-nyeruduk, yang belakang kena imbas sedurukannya. Yah, namanya juga mendaki, ini adalah bagian paling menyenangkan menurut saya, hahah. Berasa bener ujiannya, berasa hidupnya, berasa takutnya, wkwkk, sepenjang perjalanan saya terus ngebatin aja, berdo’a yang banyak, bayangin makan enak, bayangin lagi tiduran aja, hahah yang pasti selalu ingat sama Allah aja. Eh, nggak  taunya setelah melewati kemiringan hampir 90 derajat dan ujian mental serta hujan badai, yang namae Basundara akhirnya didepan mata. Spechless gengs! Tiba-tiba tanah jadi landai, banyak tenda, rame, dan saat itu mengapa serasa hujannya berhenti. Hiks. Sekitar jam 11, kita benar benar berada di Puncak Basundara, Puncaknya Panderman. Kita langsung diriin tenda, bersihin sekujur tubuh, dan cuss bubuk, eh nggak dong, haha baru aja nyape masa iya mau langsung tidur, kita mau makan dulu, biasa lah menunya, menu internasional, mie goreng dua bungkus. Hmmmmm, Alhamdulillah. Setelah makan, kita bener-bener langsung tidur wkwkk.


pamerrrr wkwkwk (pamer sendal pinjeman) haha

Besoknya, yang diharap-harapkan ternyata tak kunjung tiba, yang dinanti mulai dari keberangkatan sampe di puncak, eh nggak muncul, Tebak apaan? Udah pasti lah ‘Sunrise’. Akibat kabut yang nggak jelas dateng darimana, pemandangan sunrise jadi hilang, Gunung arjuna juga keliatan keciiil banget bahkan hampir tenggelam. Tapi, saya nggak pernah kecewa sekalipun nggak dapet dua-duanya. Haha yang penting tuh di PERJALANANNYA, hehe. Agak siangan dikit, monyet monyet pada turun minta jatah sama pendaki, rame banget monyetnya, ada yang babon, ada yang anakan, macem-macem lah, haha jadi hiburan tersendiri. Setelah puas selfie dan nyeruput kopi, kita packing dan siap-siap turun. Nampaknya hasrat mau ke 2 gunung sudah hilang akibat peristiwa semalem wkwkk. Akhirnya kita cuma memutuskan untuk turun dan nggak naik lagi. Udah pegel banget, berasa keZel banget wkwkk. Seperti  biasa perjalanan turun, selalu bikin kheZellll, mau tau kenapa? cuma dua jam lebih turunnyahh, naiknya sampe 6 jam wkwkk. Dengan perasaan riang gembira perjalanan kali ini diakhiri dengan turun panderman jam 9 dan sampe dibawah jam 11, langsung cus pulang dan nggak lupa dengan makan hehe.


How beautiful khaan hehe

Pejalanan kali ini membawa pengalaman naik gunung yang beda dari sebelumnya. Karna Gunungnya dah beda, temen dah beda lagi, treknya juga udah beda lah pastinya. Yang paling penting dan berkesan adalah proses perjuangan menuju puncak dan kebersamaannya. Panderman 


Thank youu gengs hehe