Sabtu, 07 September 2013

The Maskulin Girl

Jani lagi asik dengerin musik. Matanya menutup, Telinganya fokus mendengarkan alunan musik Ehma Ainun Nadjib yang judulnya tombo ati. Pikirannya terbawa ke masalalu. Menerawang jauh ke atas awan, melihat ke dalam dirinya yang dulu sudah jauh berbeda sekali dari hari ini. Air matanya menetes. Ada rasa haru di situ, ada rasa sedih dan rasa kangen. Semuanya bercampur.

Jani di besarkan dan di asuh dalam keadaan keluarga yang jiwanya kosong. Tanpa tujuan mungkin. Dia pula tak pernah tahu bagaimana musti menuntukan tujuan. Terlalu banyak pilihan. 7 tahun lalu Jani adalah gadis urakan, tapi anehnya dia pendiam. Terbawa ke pergaulan, terkontaminasi dengan media yang hampir selalu menayangkan harapan dan kekerenan seseorang. Hingga akhirnya, dia jadi gadis tomboy, begitulah teman-temannya menganggapnya. Namun dia sendiri tidak pernah mau di panggil seperti itu. Dia sadar dia gadis tulen. Meskipun ada rasa sedikit bangga di anggap seperti itu, Tapi rasa menyangkalnya lebih besar dari kebanggaan itu. Berteman dengan laki-laki, itu sudah biasa. Bahkan dia juga pernah berpacaran. Layaknya semua ramaja mungkin. Jani orang yang menyimpan misterius. Tapi dia tipe orang yang ingin menyenangkan hati setiap orang bila bersama dengannya. Diapun juga dulunya musuh bebuyutan dengan kakaknya yang laki-laki, namanya Dino. Tiada hari tanpa pertengkaran dan sikap acuh tak acuh antara jani dengan dino. Masa anak-anaknya di lanjutkan dari TK ke SD. Jani kecil adalah jani tomboy yang masih rajin buat ngaji di musholahnya Gus Ahmad. Kalo jam 2 datang dia selalu berperang dengan keinginan antara nonton acara TV kesukaannya atau berangkat ngaji. Tapi akhirnya pilihannya jatuh pada ngaji. Hingga akhirnya dia masuk ke Sekolah Menengah Pertama, Ngajinya terputus. Pergaulannya semakin membuatnya lupa bahwa ada yang lebih penting dari sekedar main, Ngaji. Jani remaja adalah jani yang nggak pernah berambut panjang. Bahkan dia ikut kegiatan kecowok-cowokan. Kegiatan keolahragaan. Bahkan dia tidak pernah absen mengikutinya. Masalalu bersama Ngaji terhapus. Jadi kepingan, dan hilang.
Dia hampir tidak pernah bermusuhan lagi dengan Dino, sudah mulai akrab dan menjadi saudara normal. Suatu hari jani punya cowok namannya Gatan, Gatan ini orangnya suka olahraga. Tapi sampai 3 tahun bersama Gatan jani hampir tidak pernah menyangka bahwa Gatan yang sebenarnya adalah Gatan yang jauh berbeda di penglihatan orang-orang. Dia suka ngambek kalo jani nggak beri dia uang, Dari uang sampek apapun kalo nggak di turutin dia pasti sedikit kecewa. Baru kali itu jani pacaran lama banget dan berubah ancur-ancuran banget akhlaknya. Tapi kadang Jani bisa bangga, Gatan bisa ikutan klub sepak bola sampek Nasional. Itulah yang buat sebelnya jani jadi ilang.
3 tahun berlalu akhirnya jani di suruh untuk melanjutkan sekolah di Sekolah Menengah Atas yang favorit. Bukan keinginannya sih, tapi keinginan orang tua adalah keinginannya juga. Jani berusaha keras, belajar siang dan malam. Walaupun saat itu Gatan sudah tidak bersama dirinya. Jani remaja bisa di bilang sangat kelewatan sabarnya ngadepin cowok yang kayak Gatan. Jani milih buat mutusin Gatan walaupun sedikit ada rasa yang ngganjal, karna Gatan punya utang sama jani yang kudu di pertanggung jawabkan.
13 Juni, akhirnya jani berhasil dengan kerja kerasnya. Dia masuk dan di terima di sekolah favoritnya. Kedua orang tuanya terharu, sempat meneteskan air mata. Dari Jani kecil sampek remaja yang nggak pernah belajar saat itu bisa ngebuktiin kalo dia bisa jika berusaha. Dari hari itu jani percaya, apapun jika di niati pasti tercapai.
Hari pertama di sekolahnya, dia agak sedikit canggung karna sama sekali nggak punya temen disana. Tapi hari terus berlalu. Nggak cuma jani yang butuh temen, tapi orang di sana juga butuh temen. Jadilah akhirnya Jani punya temen baru. Satu kelas malah sudah deket banget sama jani, sudah tau tentang sedikit ketomboyannya yang tersisa. Temen satu kelasnya semuanya baik-baik dan satu : akhlaknya sedikit lurus. kalo di bandingkan sama masa SMP temen-temennya semuanya membawa dia melihat dunia negatif. Tapi saat di SMA ini, temen-temenya ngebawa dia ke dunia positif. Indah, tentram begitulah Jani berfikir.
Mulai sedikit ada perubahan di diri Jani. Walaupun jani ngerti perubahan itu akan merubah dirinya dia tetap tenang, dia percaya dia akan di rubah menjadi dirinya sendiri oleh keadaan. Jani membiarkan semuanya mengalir.
Lomba yang nggak pernah dia ikuti di SMP, mulai dia kembangkan di SMA, hingga karna lomba keolahragaannya dia bertemu dengan seorang Adit. Seorang atlit renang dan lari yang sangat terkenal. Jani masih tetap jadi dirinya, pendiam. Adit sangat suka bercanda, adit senang mengenal jani. Jadilah akhirnya mereka berpacaran walaupun Jani masih suka Gatan. Adit adalah Gatan 270 derajat. Kalo Gatan suka ngambek nggak di beri sesuatu, adit akan memberikan sesuatu yang membahagiaan Jani walaupun Jani nggak minta. Gatan yang bisanya nanya 'sudah makan?', Kalo adit selalu nanya 'udah sholat?'. Cuma sedikit kesamaan mereka 'suka rokok dan kopi'
Bagi jani Gatan adalah Adit yang tertunda. Adit sudah menjadi the inspre-nya Jani. Jani yang akhlaknya sudah bengkok banget akhirnya sedikit bisa kembali karna adanya adit. Jani yang nggak pernah ngaji, jadi tiap hari pegang Al-Qur'an.
Tiap hari di kelas Jani selalu curhat tentang mereka berdua ke sahabat terdekatnya Ruru, ruru adalah sahabat yang paling membangun selama jani hidup. Ruru gadis pesantren, dia menghafal Juz-juz Al-Qur'an. Setiap hari setiap menit Jani selalu mengambil pelajaran dari ruru. Hingga akhirnya Jani memilih jalan sehat dengan Jomblo. Dia tidak akan lagi berurusan dengan laki-laki sebelum 'Halalnya'. Dia sadar bahwa yang membuat hati tentram adalah Agamanya, Dan dia ingat Ngajinya.
Jani memutuskan untuk membeli rok, memakai jilbab, dan satu keputusan besarnya, mengikuti Ruru, mengaji dan memperbaiki akhlak. Jani tidak pernah menyesal akan itu. Bakhan jani sudah merasa sangat terpenuhi kebutuhannya.
Hingga saat ini, Ngaji yang membawanya memandang langit dari jendela Universitas Negerinya, dengan lantunan obat hati yang memang ampuh sekali mengobati hati. Membawanya menangis mengingat masalalu terpuruknya, membuatnya rindu akan masa-masa kecil mengajinya. Dan membuatnya bangga memilih jalan yang benar hingga hari ini dia tetap bisa bernafas dengan bahagia di hatinya. Akhlaknya mulai kembali ke awal, Lurus.