Senin, 17 Desember 2012

Suka Duka Dan Petualangan

Ini adalah segelintir kisah, semacam petualangan.
Mungkin bagi saya yang namanya petualangan tuh nggak cuma sekedar keliling ke tempat-tempat indah, terus diem nikmatin pemandangan, terus foto-foto, udah selesai.
Bagi saya petualangan itu sesuatu yang di dalemnya ada seneng-senengnya, ada susah sedihnya juga dan ada hal yang bisa kita petik di dalemnya, bisa aja motivasi hidup bisa aja pengalaman yang nggak bisa di ulangi bisa aja yang lainnya. Yah mungkin begitu.
Kisah ini bukan drama atau sinetron yang bakal habis dalam waktu lama. Kisah ini cuman terjadi dalam seminggu kurang lebih. Mungkin akan membosankan membacanya kalau saya menceritakan semuanya yang terjadi :v jadi yah mungkin saya akan menceritakan seingat saya saja. hahah

Surabaya, 28-30 November 2012
Kota yang ramai, penuh lalu lalang orang di jalanan besar. Saya cuma bisa bengong melihat keramaian jalanan dari kaca jendela taxi yang saya tumpangi bersama 3 orang lain, kenalkan mereka Ken, Mbak Riza, dan Mama Devi. Siapa kami? tentu jawabannya bukan 'Be A Man' -_-
Kami kontingen silat dari Lumajang yang akan mewakili Jawa Timur dalam event POPWIL IV. Wah, betapa bangganya. Saya sih kebetulan aja bisa dapet petualangan seru yang satu ini. Sebenernya yang bakal berangkat ke event ini bukan saya. Tetapi teman dari kedua teman saya tadi, kenalkan dia Mbak Faiq. Entah kenapa takdir membuat cerita semacam ini dalam hidup saya. Saya yang harus menggantikan mbak faiq karena mbaknya sewaktu itu dapet musibah kecelakaan. Saya sedih denger kabar itu. Betapa enggak, saya selalu suka melihat mereka kompak main bertiga, saya pendukung mereka meskipun saya nggak pernah bisa secara langsung melihat pertandingan mereka. Di sisi lain. siapapun itu orangnya, ketika dia mendapat kesempatan sekeren ini apa nggak seneng juga? iyasih seneng tapi dikit.
Saya harus latihan sebelum kami benar-benar sampai di Surabaya. Saya tau masih punya banyak kekurangan, banyak sekali. Setiap pulang sekolah saya harus berlatih. Saya harus memakai sabuk di punggung saya untuk menegakkan postur tubuh saya yang bungkuk.  Dan sabuk itu harus di pakai tiap hari, di manapun, di sekolah, di rumah, di pasar, di lain-lainya. Tersiksa? sangat. Namun itu yang harus saya bayar untuk membuat sesuatu yang di sebut "juara" itu datang kepada kami. Dalam waktu seminggu latihan di Lumajang, saya kadang menginap di rumah guru saya, yah Mama Devi. Mama mengajarkan saya segalanya, lari pagi cuma 15 menit tapi rutin, Saya harus fokus, saya nggak boleh bungkuk, dan yang lain lagi. Entah betapa saya berterimakasih pada mama. Saat itu saya berharap, saya tidak mempermalukan mereka dalam event ini.
Tak lama taxi yang kami tumpangi sampai pada tempatnya. Dispora Jatim di Surabaya. Setibanya di sana kami langsung bersih-bersih tempat yang akan kami gunakan untuk TC selama 3 hari kedepan.
Hari hari yang saya lewati di dispora, saya juga nggak akan pernah lupa. Kami lari setiap pagi mengelilingi kompleks tersebut. Setelah itu pemanasan dan latihan. Selesai dari itu kami harus bongkar matras yang di gunakan latihan. Ketika jam makan tiba kami makan dengan porsi masing-masing. Porsi tersebut di ambilkan oleh ibu yang menyiapkan konsumsi. Dan jujur saja, itu adalah porsi makan terbanyak saya sepanjang saya hidup. Setelah selesai makan kami istirahat. Latihan lagi, pasang matras lagi. Begitu setiap hari, hingga saat itu tiba.
Hari terakhir di Dispora, di akhiri tanpa latihan. Kami bersiap pergi ke Hotel. Cuma sehari dalam rangka besoknya akan berangkat ke tempat tujuan 'Makassar'.
Sebelum itu kami melakukan makan bersama, apalah itu namanya saya juga nggak tahu, ada yang namanya check in -_- saat itu saya masih polos dan nggak ngerti apa apa.
Setelah makan kami di giring ke suatu ruangan. Disanalah, kami mengikuti acara pelepasan kontingen.

pengalaman pertama ngalamin yang namanya pelepasan kontingen Jawa Timur

Makassar, 31 November - 5 Desember
Besoknya tau tau kita sudah di bopong ke Bandara Djuanda buat perjalanan ke Makassar. Benar-benar bukan dongeng ternyata saya bisa merasakan yang namanya naik pesawat. haha.
Saya cuma orang biasa, maklum lah kalau sewaktu itu naik pesawat aja jadi 'wow'. 

di bandara Djuanda

di bandara Sultan Hassanudin

Setelah mengalami sakit telinga di pesawat, mungkin saya akan langsung menceritakan bahwa saya sudah berada di Makassar. Ternyata saya sudah menginjak tanah Makassar. Terharu ya, cuma saya yang terharu :') hehe. Saya tuh seneng bisa bareng orang-orang hebat seperti yang di foto tuh.
Setibanya di Makassar kita langsung di bawa ke Asrama Haji Sudiang naik bus eksekutiv. Kami langsung mencari tempat di mana kami akan tidur. Saya lupa tidur di bagian apa waktu itu. Yang jelas, Kontingen cabor lain yang berada cukup dekat adalah kontingen sepak bola. Begitu sampai kami langsung ikut upacara lagi. Kali ini upacara pembukaan POPWIL IV.

Upacara pembukaan POPWIL IV 

Usai upacara

Setelah upacara tersebut, sepertinya kami harus latihan lagi. Kegiatan kami sehari hari di sana adalah latihan dan nonton pertandingan. Sampai kami sendiri yang benar-benar main. Serunya, Ramainya, ah Hebohnya kalau lihat pertandingan. Apalagi kalau Jatim yang main. Benar benar full musik ruang pertandingan. Saling support, saling teriak nama, saling nyanyi buat yel yel. Nggak akan di lupakan.
Bahkan saya punya pengalaman khusus yang mereka berikan pada saya. Saat itu, hari kelahiran saya yang pertama kali saya rayakan di luar tanah kelahiran saya, jauh dari keluarga, dan sahabat-sahabat saya. Jujur kadang di sana saya kesepian. Namun hari itu spesial. Hari itu Pertandingan silat telah usai dan kami telah berjuang dengan berhasil mendapatkan emas. Sempat masuk koran juga dengan judul "Tampil Memuaskan, Sapu Bersih Enam Emas"

Usai pertandingan ada tawa dan tangis kebahagiaan

Kebersamaan Jatim dan Kaltim

Hari itu pula saya di kerjai habis habisan. Ceritanya waktu itu kita lagi makan bareng di kamar seni. Sayangnya saya lupa menjelaskan bahwa silat ada seni dan fighter. Begitu pula pembagian kamar , sesuai dengan hal tersebut. Langsung saja deh ya, nggak penting. Habis makan tiba tiba si Ken bilang 'He aan ulang tahun, heee, selamaaat an' dalam waktu sekejap yang lain memandang ke arah saya. Lalu ngucapin juga. Lalu senyum. Tapi ada yang aneh di senyum mereka. Betapa kagetnya waktu itu, Mbak Riza keluar kamar mandi dengan 'cebok' yang bahasa Indonesianya gayung penuh dengan air yang seolah siap di siram ke saya. Saya langsung ngibrit lari keluar kamar. Dan bodohnya saya saya keluar ke halaman belakang, tiada jalan lain selain kembali. Saat itu saya di kejar Mbak Sarah juga, fighter idola saya, yang matanya serem -_- tapi saya ngefans. Mbak Sarah pun begitu, lari sambil bawa bawa air. Saya cuma bilang 'ampun mbak ampun' eh mereka ketawa. Mbak Sarah pun kembali ke dalam. Saya pikir waktu itu mereka sudah menyerah. Tinggal beberapa langkah mendekati kamar, 'Byuur' sekujur tubuh saya langsung basah. Guyuran itu di susul guyuran kedua, ketiga dan seterusnya. Mereka nyanyi dengan heboh dan bangganya. Dan saya, mirip sekali dengan jemuran basah. Tak puas dengan itu mereka mencari ganti tepung karna di sana kita tidak bawa tepung. Jadilah telor rebus sisa makanan mereka, di lempar ke saya, ada yang nambahin kulit pisang, di gosok ke kepala saya, ah pokoknya saya waktu itu cuma bisa diem. Begitu denger kehebohan dari lobi, temen-temen yang lain pada keluar sambil ngucapin, dan nggak lupa nambahin sesuatu ke atas rambut saya. Saya kaya udah jadi 'gedang' goreng plus telur rebus yang 'jemek-jemek' yeek =.=
Tapi di balik itu semua saya terharu lagi dan bahagia sekali meski kabar buruknya bau amis telor masih menjalar di tubuh saya.
Setelah hari itu berlalu kami melakukan refresing keliling Makassar. Karena waktu kita nggak lama ada di Makassar. Sekali seumur hidup. Yeah. Kami jalan jalan naik 'lin'. Muterin laut keliling gedung gede, dan sampai di Trans Studio Makassar.

Di depan Studio Trans Makassar

Pose sama ibu peri

kemudaian menuju pantai losari


Begitu puas di Trans Studio Makassar kami menuju Pantai Losari berbelanja oleh oleh buat sanak keluarga. Pastinya dengan berburu kuliner khas Makassar. Hayoo apa kuliner khas Makassar? Nggak usah di jawab deh kelamaan. Kuliner khas Makassar itu coto Makassar. Beruntung lagi saya bisa ngicipin meski cuma beli seporsi. haha. Besoknya kami masih sempat mendukung cabor Volley. Sebelum akhirnya pulang.
Hari hari yang saya lewati bersama mereka bener bener berkesan. Berulang kali saya bersyukur kenal mereka :) begitu pula dengan Ken dan Mbak Riza saya sangat berterima kasih sudah mengajarkan saya pengalaman penting yang mungkin nggak akan pernah terulang.
Selamat jalan Makassar, Terimakasih telah memberikan petualangan yang luar biasa. Cacian, Tingkah sombong, saling ngomongin temen, ketawa bareng, main bola malem malem, ah semuanya deh, Sampai berjumpa lagi suatu saat nanti :)